Merintihlah dalam Tahajjudmu

Novel Pop Religi Pembangun Motivasi, Salam Silaturrohim......

Sabtu, 22 Mei 2010

Merintihlah dalam Tahajjudmu "Bagian 25"

25 Sejoli Merpati Putih SMA.

Benar saja, apa yang telah Suwarno paparkan secara gamblang dan panjang lebar itu bukanlah isapan jempol belaka. Sejak kejadian itu tak pernah lagi ada yang mengganggu hubungan mereka berdua. Satu tahun sudah rutinitas itu mereka jalani berdua dengan perasaan adem ayem dan bahagia. Sepekan dua kali mereka bersepeda bersama. Tepatnya Selasa dan Sabtu Eren Verales mengendarai sepeda menuju sekolahnya. Bersepeda ria dalam perjalanan bersama siswa dari sekolah lain, seolah terkesan membawa secercah kebersahajaan dan kebersamaan. Bahkan bersepeda membuat raga mereka menjadi sehat. Udara menjadi bersih dari polusi gas buang knalpot kendaraan mereka. Selain julukan bagi Yogyakarta sebagai Kota Pelajar, Kota Gudeg, Kota Budaya dan masih banyak julukan-julukan yang lain yang pantas disandangnya, kini julukan itu bertambah lagi, yaitu Yogyakarta sebagai Kota Sejuta Sepeda dan Kota Bebas Polusi. Akhirnya Yogyakarta juga berhak menyandang gelar Kota Seribu Predikat, karena julukan-julukan itu.
Begitu terasa cepat waktu bergulir. Dua bulan lagi Ebtanas segera diselenggarakan, serentak di seluruh Indonesia, baik di Madrasah maupun di SMA. Beberapa mata pelajaran yang akan diujikan dalam Ebtanas harus mereka persiapkan matang-matang, agar angka-angka hasil ujian itu tetap terjaga, bahkan berharap bisa maksimal. Nilai baik memang kudu. Namun bagi Faiq El-Farisy nilai bukanlah hal yang menjadi prioritasnya. Kalau hanya persoalan nilai yang akan diraih, tentu gampang untuk meraihnya. Banyak yang berpredikat juara, namun hal memperoleh predikat juara itu mereka culas alias curang. Mereka memperolehnya dengan cara yang tidak halal, dengan cara mencontek atau menyalin dari buku yang telah diringkasnya menjadi gulungan kertas kecil yang penuh dengan jawaban-jawaban dari soal-soal yang akan dilontarkan dalam ujian akhir itu. Bagi Faiq El-Farisy, dirinya harus bisa mendapat nilai baik, namun dengan cara yang baik pula. Jika tak membuahkan hasil toh ia sudah mengusahakannya dengan semaksimal mungkin dan sepenuh hati untuk meraih predikat halalan thoyyiban. Dia tak mau culas seperti yang lain. Sebab jika dirinya kelak menjadi seorang pejabat, ia takut mencurangi Negara dengan mengakali angka-angka yang bakal mereka setting untuk mengelabui para auditor, sehingga hasil tipuannya yang disebut korupsi itu menjadi mulus, lalu rugilah Negara dengan tanpa harus ada yang mempertanggungjawabkannya. Nanti saat ditanya oleh para anggota Pansus DPR,. jawaban mereka akan mereka buat mencla-mencle, plinthat-plinthut dan dibuat semengambang mungkin, dibuat menjadi abu-abu, supaya para Pansus dan rakyat pada bingung menterjemahkan maknanya. Na’udzubillah. Ampuni aku ya Rabb.
Akhir-akhir ini Eren Verales telah jarang belajar bersama dengan para sahabatnya. Kini Gadis Ayu itu lebih sering belajar bersama di GTR di Dusun Gedangan yang sejuk dan damai. Faiq El-Farisy sebagai pemuda idamannya itu, juga memberikan andil yang sangat besar pada kemajuan dirinya dalam memahami hampir seluruh materi pelajaran-pelajaran yang telah diajarkan baik di madrasah maupun di Padmanaba tempat mereka menimba ilmu. Pemahaman yang telah Faiq El-Farisy berikan terasa lebih mudah dicerna, mungkin karena belajar mereka mendapat sentuhan-sentuhan cinta, sehingga sugesti itu dapat memberikan rangsangan di otak untuk bisa bekerja lebih konsen dan maksimal.
Pagi ini Eren Verales sengaja meminta kepada Pak Sukir untuk mengantar sampai perempatan jalan saja. Pak Sukir juga sudah paham atas permintaan Den Ayunya ~Eren Verales~ itu. Seandainya saja Den Ayunya itu adalah putrinya, sungguh ia akan merestui hubungan dua sejoli itu. Pak Sukir berasumsi bahwa Mas Faiq El-Farisy adalah satu-satunya pemuda yang bisa menjadi tumpuan jiwa Den Ayunya. Karena menurut Pak Sukir, Mas Faiq El-Farisy itu adalah orang yang baik, sabar, ulet, tekun, rajin, pintar, cerdas dan bertanggungjawab serta sangat religius. Bahkan ia juga sangat berharap bila Den Ayunya akan bisa bersanding di pelaminan bersama Mas Faiq El-Farisy kelak di kemudian hari. Karena menurut Sang Sopir kesayangan itu, bahwa Mas Faiq El-Farisy bisa menjadi malaikat pendamping bagi Den Ayunya . Masya Allah.
Pak Sukir sebenarnya tahu, jika Den Ayunya itu akan segera di pertunangkan dengan Anton putra sulung Pak Surya yang seorang anggota DPR tetangga di komplek perumahan elit itu, yang kini tengah kuliah di Luar Negeri. Dia sempat mendengar percakapan Ndoro Kakung dan Ndoro Putri, yang tak lain adalah Om Danu dan Tante Vera. Bukan sengaja Pak Sukir menguping percakapan itu, namun terlebih ia tak sengaja mendengarkan perbincangan mereka yang terdengar jelas dari jarak yang agak jauh, namun dapat dipahaminya. Pak Sukir tidak mau membuka rahasia itu, baik kepada Mas Faiq El-Farisy ataupun kepada Den Ayu Eren Verales. Ia tak rela gara-gara keceplosan mulutnya, sehingga membuat hubungan dua sejoli yang lagi adem ayemnya dan bahagia-bahagianya itu akan berubah menjadi runyam berantakan. Pak Sukir tak mau hal itu terjadi. Ia sangat menghormati sekaligus menyayangi Den Ayunya itu, seakan Den Ayunya adalah bak putri kandung sendiri. Seandainya saja ia selevel dengan keluarga Den Ayunya itu, pasti dirinya sudah melamar Den Ayunya itu untuk dijadikan sang menantu tercinta.
“Sungguh betapa beruntungnya Mas Faiq itu…” Ucap Pak Sukir tiba-tiba saat mengantar Den Ayunya menuju Padmanaba.
“Kenapa, Pak Sukir…?”
“Ah,…ndak kok, Mbak Eren.” Pak Sukir menjawab pertanyaan Eren dengan gelagepan.
“Lha itu tadi? Pak Sukir bilang kalo Mas Faiq beruntung? Beruntung bagaimana to…?” cecar Eren Verales.
“Anu...Mbak. A…anu….” Pak Sukir tergagap dan ragu.
“Anu kenapa? Jelasin aja! Eren jadi penasaran nih…!” Rengek Eren Verales. Manja.
“Anu…, Mas Faiq itu beruntung kalo bisa jadian sama Mbak Eren, gitu…!”
“Pak Sukir ini bisa aja…! Hik…hik…hiks…” Eren Verales terkikik.
“Tapi….”
“Tapi apa lagi, Pak Sukir?”
“Tapi…, Mbak Eren juga sangat beruntung bisa mendapatkan seorang pemuda yang sempurna seperti Mas Faiq, lho…. Sebab Mas Faiq El-Farisy itu adalah orang yang sangat kalem, baik, sabar, ulet, tekun, rajin, pintar, cerdas dan bertanggungjawab serta sangat religius.” Puji pak Sukir kemudian.
“Ah…, lebay kali…! Hik…hik…hik…” Eren Verales terkikik lagi terasa tersanjung.
“Ini benar lho, Mbak Eren. Kenyataan…, gitu! Kok malah dibilang lebah to…?” Pak Sukir linglung benar-benar tak paham.
“Bukan lebah…, tapi lebay. Pujian pak Sukir itu sangat berlebihan gitu…!”
“O…” Pak Sukir memoncongkan bibirnya tanda paham, sambil tetap konsentrasi pada gagang setirnya. “Tapi…, ucapan saya tadi ndak berlebihan kok. Memang kenyataannya begitu kok, Den Ayu…” sambung pak Sukir tetap tak mau dikoreksi jika ucapannya itu memang benar-benar betul atau betul-betul benar.
“Kok Den Ayu lagi to, Pak Sukir ki! Mbak Eren gitu…” Eren Verales meralat sebutan Pak Sukir atas dirinya.
“Injih…, nuwun sewu Mbak Eren…, Kawulo kesupen…”
“Ya udah, ndak apa-apa…..”
Pak Sukir terus melajukan mobilnya. Sambil pikirannya terus menganalisa kisah kasih dua sejoli itu.
“Sampai di ini saja Pak Sukir. Saya menunggu Mas Faiq di pojok situ. Nanti pulang sekolah Pak Sukir jemput saya di sini juga.” Pinta Eren Verales sambil menunjuk sebuah pojok perempatan jalanan dekat dengan lampu merah. Di tengah perempatan jalan itu terlihat tampilan sebuah taman kota yang indah dan asri. Pak Sukir tahu maksud dan tujuan Den Ayunya. Hanya ingin punya waktu lebih untuk bisa selalu bersama dengan kekasih hatinya, Mas Faiq El-Farisy.
“Injih, Mbak Eren. Sendiko dawuh. ” Balasan hormat dari Pak Sukir terhadap Den Ayunya. Kemudian menurunkan Den Ayunya dari Marcedes Band hitam kilap itu. Den Ayunya mengerdipkan matanya kepada dirinya sebagai kode untuk segera melajukan mobilnya dan meninggalkannya di perempatan jalan itu sendirian. Pak Sukir mematuhi, dengan menekan pedal gas secara perlahan. Kemudian meninggalkan Den Ayunya ~Eren Verales~ sendirian di perempatan jalan dekat lampu merah itu.
Setelah menunggu beberapa menit di perempatan jalan tempat biasa bertemu, akhirnya sang pemuda pujaan yang ia tunggu itupun muncul bersama sepeda bukarnya yang dua tahun lebih itu telah setia menemaninya. Pemuda itu sempat kaget ketika melihat Gadis Ayunya berdiri mematung di pojok perempatan jalan itu tanpa sepeda seperti biasanya. Tapi keterheranannya itu tak ia perlihatkan pada Gadis Ayunya dengan langsung menyapanya.
“Lhoh, kok manyun begitu?”
“Aku dilarang naik sepeda oleh Papa. Jadi dianterin sama Pak Sukir tadi.”
“Kasihan….! Ya Sudah, naik saja. Tapi aku ndak bertanggungjawab lho…, kalo kamu kena tetanus nantinya. He..he…he.” Faiq El-Farisy mempersilahkan Gadis Ayunya untuk duduk di boncengan sepeda bukarnya dibarengi dengan canda. Gadis Ayupun tersenyum tersipu atas candaan sang pemuda idaman, lalu nemplok di boncengan. Meski terasa keras besi bocengan itu menekan pinggulnya, namun terasa empuk di batinnya. Duh! “Bismillahirrahmanirrahim” Sepeda bukarpun berjalan kembali perlahan.
“Kapan kamu insyaf mencandain aku to, Mas?” Protes Gadis Ayu.
“Ya kalo kamu bukan milikku lagi.”
“Kamu itu makin hari makin berani aja berterus terang. Cupu kamu sudah berkurang drastis. Hik…hik…hik.” Gadis Ayu terkikik, “memangnya aku sekarang milikmu?” sambungnya ngetes.
“Bisa ya…, bisa belum….!” Sekenanya saja sang pemuda menjawab.
“Maksud kamu?”
“Karena aku…” tercekat tenggorokannya untuk mengucapkan sebuah kalimat : “Karena aku sangat menyayangimu…!” teriak batin sang pemuda.
“Karena apa, hayo…!” Cecar sang Gadis Ayu penasaran.
“Karena belum ada ikatan. Belum resmi gitu.”
“Jadi kapan resminya?”
“Ya kalo sudah sarjana. Sudah bekerja.”
“Memangnya akan bisa jadi sarjana?”
“Mudah-mudahan saja.”
“Sekarang kan sudah bekerja….!”
“Kerja apaan?”
“Distribusi Koran dan dagang bakso?”
“Kamu itu hobinya menghina aku.”
“Ah! Gitu aja ngambek.”
“Aku nggak ngambek. Tapi aku justru sangat berbangga hati mendapat hinaan dari kamu. He….he…he.” seloroh sang pemuda tanpa sakit hati sedikitpun, melainkan hati itu malah menjadi berbunga-bunga.
Sungguh hadir perasaan berbeda ketika berjalan berdua dengan sang kekasih pujaan. Seolah bagai bertabur bahagia dengan bermandikan cinta. Kendati suasana padat riuh gempita, namun dunia ini seakan milik mereka berdua. Merekapun bercanda di perjalanan, diantara para pengguna jalan lainnya. Gelak-tawapun mewarnai di sepanjang perjalanan menuju sekolah mereka. Saling mencibir, saling mengejek, tapi sungguh perasaan bagai terbang di awang berdua saja. Sejoli merpati putih SMA pun menikmati masa bahagia di pagi hari yang cerah, secerah hati mereka berdua. Sementara para pengguna jalan lainnya, yang turut andil menimbulkan suara gegap gempita itupun hanya bisa menyaksikan dua sejoli itu bercanda bahagia. Marjikun yang sedari tadi berada agak jauh sambil mengawasi dari arah belakang mereka, hanya bisa cemburu melihat dua sejoli itu tampak mesra berboncengan di atas sepeda bukar mereka. Marjikun perlahan saja mengayuh konstan sepedanya untuk menjaga jarak dari dua sejoli itu. Dia hanya bisa manggut-manggut heran dan sesekali menelan ludahnya. Pingin seperti mereka berdua. Ternyata cinta Eren Verales terhadap Faiq El-Farisy bukan isapan jempol belaka. Bukan karena Ge-Ernya Faiq El-Farisy. Tapi ini nyata di matanya.
Akhirnya Faiq El-Farisypun menurunkan Eren Verales di pintu gerbang Padmanaba, setelah membuat kesepakatan untuk bisa berdua lagi saat sepulang sekolah nanti. Dan kesepakatan untuk bisa terhindar dari kesaksian para sahabat-sahabatnya.
“Assalamu’alaikum!” Uluk salam sang Gadis Ayu
“Wa’alaikum salam!” Balas sang pemuda menguntapkan.
Eren Verales pun bergegas memasuki pekarangan sekolah. Ia berlalu tanpa mencium punggung telapak tangan sang pemuda seperti biasa, sebab ia tak mau dilihat apalagi kepergok oleh dua sahabatnya, Yedna dan Ghevana. Yang jelas ia tak ingin malu bahkan dipermalukan. Dirinya belum siap digojlok oleh para sahabat tentang jalinan cintanya dengan pemuda idaman hatinya itu.
Sepeninggal Eren Verales, Faiq El-Farisy pun melanjutkan perjalanannya menuju madrasah yang sisa satu setengah kilometer itu. Namun baru beberapa meter sepeda bukarnya melaju, dia dikagetkan oleh suara Marjikun yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
“Hayo…, Ustadz Faiq dilarang berpacaran….! Nanti saya lapor sama Om Danu lho? Atau akan kulapor saja sama Mbah Sastro, supaya tidak boleh mengutang mendoan lagi! Ha…ha…ha..!” Suara selengekan Marjikun disertai bahak tawa betul-betul mengagetkan Faiq. Seperti kucing sedang kepergok mencuri ikan di dapur. Faiq El-Farisy sedikit jengah dibuatnya.
“Hus…! Kamu itu kalo cemburu mbok ya jangan ngancam gitu dong…! Jangan main lapor saja! Bersaing…, ya bersaing….! Tapi yang sportif…, getooohhh!” Balas Faiq El-Farisy berusaha santai dengan wajah yang dia perlihatkan tampak biasa-biasa saja. Ia tak ingin perubahan mimik malu di raut wajahnya itu dilihat oleh Marjikun, apalagi mendapat penilaiannya.
Gengsi dong!
Marjikun hanya bisa geleng-geleng kepala sambil masih terbahak. Dia tak habis pikir, Eren Verales bisa lengket kayak perangko sama Faiq El-Farisy, yang dia anggap sebagai seorang pria yang tak punya prospek itu. ***

Kamis, 11 Februari 2010

Merintihlah dalam tahajjudmu "Bagian 3"

3. PERTEMUAN MENDEBARKAN DI MAN YOGYAKARTA I

Pagi itu Faiq El-Farisy terbangun agak kesiangan. Sholat subuhnya saja jam setengah enam lewat. Maklum kelelahan. Dia batal diantar oleh Bowo, karena Bowo mendapat telepon dari mamanya di Ngawi, Jawa Timur, kampung halamannya, yang memberi kabar tentang sakit neneknya yang semakin parah. Usianya juga sudah hampir delapan lima tahun. Sudah udzur. Pagi ini Bowo harus segera berangkat ke Ngawi.
Faiq El-Farisy akhirnya sendirian berangkat menuju kampus MAN Yogyakarta I yang berdiri megah di pojok Sekip itu dengan menggunakan bus kota setelah diberi petunjuk oleh Bowo. Dulu anak MAN Yogyakarta I biasa menyebutnya SGM, Sekolah selatan Gajah Mada. Karena gedung fakultas Mipa Gajah Mada itu terletak persis di sebelah utara madrasah. Bahkan satu lokasi dengan fakultas Sospol Gama hanya tersekat oleh tembok setinggi satu setengah meter saja.
Bangunan tua berlantai dua itu masih tampak megah dan kokoh. Sebelumnya bangunan ini adalah milik Pendidikan Hakim Islam Negeri yang alumninya hampir seratus prosen masuk di Fakultas Hukum Gama. Kalau tidak salah, Pak Mahfud MD sang Ketua MK yang mantan Menhan itu adalah alumnus dari PHIN itu. Tapi beberapa tahun ini sekolah itu telah dilebur menjadi Madrasah Aliah Negeri Yogyakarta I dengan tiga jurusan, IPA, IPS dan PA (Peradilan Agama). Yang konon awal tahun delapan puluhan pernah menjadi Madrasah teladan se Indonesia. Dan berjibun prestasi yang telah diraihnya kini. Wallohu a’lam bishowab. Juga bahkan sering banyak orang mengira bahwa bangunan ini milik Gama, karena sering mengecoh orang yang hendak masuk kampus Gama, justru masuk ke kampus Madaline Yosa ya kampus MAN Yogyakarta I itu.
Bus kota berhenti tepat di halte depan MAN Yogyakarta I jalan C Simanjuntak No. 60 itu. Faiq pun melompat turun, karena bus kota itu sudah tancap gas sebelum tuntas menurunkan beberapa penumpangnya. Entah kenapa? Memang sudah menjadi kebiasaan bagi sang sopir berbuat demikian. Bahkan biasa dibarengi canda sang kernet dengan bermacam celotehan yang membuat para penumpang pada nyengir. Misalkan saja ketika nenek-nenek mau turun, sang kernet berteriak :” Awas…! Awas..! Anggur mau turun!”, maksudnya ada merek jamu ‘anggur: cap orangtua’, maksud sebenarnya ya ‘orangtua’ yang hendak turun dari bus kota itu, supaya penumpang lain memberikan jalan. Masak orangtua dibilang anggur. Ayak-ayak wae. Atau juga seorang Mbok-Mbok yang bawa bakul, bakul itu sang kernet asumsikan sebagi televisi. “Awas televisi! Mau turun…!” teriak sang kernet. Padahal Mbok-Mbok bersama bakulnya itu yang hendak turun. Enek-enek ae tho rek!
Faiq berlalu menuju pintu gerbang MAN Yogyakarta I tanpa peduli dengan bus kota dan candaan sang kernet itu lagi sebagaimana penumpang lainnya. Hanya ada juga sedikit kegelian yang menyelinap dibatinnya. Dia tahu karena mendapat penjelasan dari penumpang yang duduk bersebelahan dengannya tadi.
Ada dua pintu gerbang, sebelah selatan dan utara. Masing-masing punya pintu dorong setinggi dua meter. Ada satpam yang menjaga. Tapi pintu dorong berbentuk pagar besi itu sudah terbuka lebar. Faiq pun langsung masuk melalui gerbang sebelah selatan yang terbuka lebar itu tanpa basa-basi menuju loket pendaftaran. Ada ratusan siswa sedang antre pada loket itu. Ia pun ikutan antre, dan hampir setengah jam dia pun akhirnya mendapatkan formulir. Ada bangku kosong di pojok pekarangan sekolah, di bawah pohon Akasia yang cukup meneduhi dari terpaan matahari jelang siang. Ia menuju ke sana bermaksud mengisi formulir itu untuk langsung mengembalikannya ke panitia, meski batas pengembalian masih tiga hari lagi. Sebagian besar calon siswa yang antre tadi setelah mendapatkan formulir langsung meninggalkan sekolah itu tanpa mengisinya buru-buru sepertinya. Maklum penduduk asli. Tapi madrasah ini siswanya hampir semua suku dari seluruh penjuru Indonesia ada di sana. Bahkan ada juga beberapa siswa keturunan Muslim Tionghoa.***
~oOo~
Karena faktor waktu dan biaya yang pas-pasan, maka ia putuskan saja untuk mengisi formulir itu dan sekaligus mengembalikannya ke panitia penerimaan siswa baru hari ini juga. Kini dia mulai mengukir namanya di atas blangko isian formulir dengan polpennya. Saking asyik dan antusiasnya dalam mengisi formulir itu, nyaris dirinya tidak peduli dengan kehadiran seorang gadis ayu bermata biru bak bidadari yang juga berhasrat mengisi blangko isian formulir itu.
“Permisi!” Sapa gadis ayu bermata biru bak bidadari itu mengagetkannya “ma’af, numpang ‘dikit!” pinta gadis cantik, ayu, manis, anggun dan entah pujian apalagi. Yang jelas selebihnya pujian bagi sang Pencipta gadis itu, Allah Azza Wajalla. Gadis ayu bermata biru bak bidadari itu telah duduk di sampingnya.
Faiq sempat deg-deg nyuusss. Baru kali ini jantungnya berdetak kencang seperti mau copot ketika melihat lawan jenisnya. Entah, bidadari dari mana tiba-tiba makpethungul hadir di depannya. Dulu dia punya sahabat Nina Handayani di Jakarta, tapi tidak pernah ada debaran hebat yang merobek-robek hatinya seperti ini. Hanya sebatas sahabat terbaik, tidak lebih! Suwer…dikewer-kewer! Begitu kilahnya.
“Ma’af, boleh numpang ‘dikit?!” kalimat oratoris gadis manis itu kembali diulangnya dari bibir mungilnya. Manis sekali. Hidungnya? Duh! Alisnya? Ah! Rambutnya? Wow! Tergerai menyebar bau wewangian yang mengundang hajat jiwa memesona.
“Si…si..silahkan.” Faiq El-Farisy akhirnya mepersilahkan dengan suara gemetaran. Jantungnya makin keras berdetak. Tak karuan. Untung sudah menyelesaikan isian formulirnya. Tapi kesempatan ini tak boleh dilewatkan begitu saja. Paling tidak, bisa tahu nama gadis itu. Lebih-lebih bisa kenal lebih dekat, atau kalau bisa lebih dari itu. Alhamdulillah. Hatinya campur aduk antara rasa takut dan harapan. Berkenalan apa tidak? Ragu-ragu dan perasaan minder tengah menghantui hatinya. Lalu dia pura-pura sibuk dengan formulirnya, sambil sesekali melirik ke arah wajah ayu Gadis Ayu bermata biru bak bidadari itu. Wajah putih, bahkan sangat putih dan mulus. Alis matanya lentik, bola matanya yang putih kebiru-biruan, hidungnya yang mancung, bibir mungil yang merah merekah. Duh, memesona! Kembali jantungnya berdetak keras bila memandang wajah gadis manis itu. Tak disadarinya dia telah menelan kembali ludahnya beberapa kali. Sejenak dia tunduk, sejenak lagi matanya nakal melirik ke wajah gadis ayu bermata biru bak bidadari itu. Tak tahan matanya untuk melewatkan wajah nan ayu itu biar sekejap saja. Tapi ketika matanya sekali lagi melirik ke wajah gadis itu, ternyata tak bisa terhindarkan, keempat mata mereka telah bersiadu tatap tanpa diduga. Treng..! Dia cepat menarik pandangannya dari wajah ayu kembali ke formulirnya. Begitu salah tingkahnya ia. Jantungnya semakin berdetak kencang. Harus berkenalan! Terdengar suara yang kuat bergetar dari dinding hatinya. Namun salah tingkahnya tak bisa dia sembunyikan. Awal dari kisah manis di Yogyakarta, gumamnya dalam hati. Atau malah akan menjadi kisah tragis! Astaghfirullah…. Na’udzubillahimindzalik.
“Boleh pinjam polpennya?” tiba-tiba pinta gadis ayu itu membuyarkan khayalan ngelanturnya. Ternyata pulpen Gadis Ayu itu macet tiba-tiba.
“Bo…bo…boleh, si…si…silahkan…! Pa…pakai saja.” Faiq jelas nampak gugup sambil menyodorkan polpennya. Tangannya gemetaran. Grogi, tapi pucuk dicinta ulampun tiba. Begitu kata hatinya berbunga-bunga. Deg!
“Alumni mana?” Tanya gadis manis itu sambil mengisi formulirnya dan tanpa menghiraukan yang ditanya.
“Tsanawiyah di Jakarta” jawab Faiq masih berbunga-bunga.
“Jauh amat!” Gumam gadis itu masih tanpa peduli sama yang ditanya.
“Pingin saja menimba ilmu di kota pelajar.” Ungkapnya tanpa diminta. Sekenanya.
“Pinjam formulir isiannya. Boleh kan?” pinta sang gadis ayu tiba-tiba dengan nada oratoris lagi, sambil sedikit menoleh ke arah Faiq. Faiqpun memberikan formulir yang telah diisinya kepada gadis ayu yang miripnya melebihi wajah-wajah bintang sinetron cantik nan molek itu, tentu dengan sedikit grogi. Gadis ayu bermata biru bak bidadari itu lalu mencontek isian formulir Faiq El-Farisy, tentu sesuai dengan data dirinya. Sedikit-sedikit Faiq El-Farisy melirik kearah gadis itu. Hus haram! Peliharalah pandanganmu dari perbuatan zina. Tapi sungguh sulit untuk menghindarinya. Baru kali ini ia benar-benar kalah tak bisa menahan gejolak batinnya yang kian membara. Apakah ini yang dinamakan hubusysyahwat, atau hanya gejolak cinta monyet yang tiba-tiba saja hadir lalu menggeliat hingga ke palung hatinya. Atau cinta biasa yang hadir normal bagi remaja yang telah menginjak dewasa? Atau pertanda bahwa ia sedang jatuh cinta dengan cinta pertamanya? Entahlah.
“Ndak salah ini, isian tahun kelulusannya kok….?” Koreksi Gadis Ayu itu tiba-tiba tanpa menoleh ke arah yang ditanya sedikitpun.
“Oh …ya! Saya lulus tahun lalu. Tapi orangtua tak mengizinkan saya sekolah di sini.” Potongnya dengan sedikit berbohong. Memang, seharusnya dirinya sudah kelas tiga SMA atau Madrasah Aliyah. Dirinya juga telat masuk Ibtidaiyah dulu. Delapan tahun baru masuk Madrasah Ibtidaiyah di Jakarta. Maklum orangtuanya tak sanggup membiayai sekolahnya atau lebih tepatnya tak mau membiayai sekolahnya. Karena tekad dan kemaunnya untuk maju, maka sepulang sekolah dia gunakan waktunya untuk berjualan Es Campur keliling demi mencukupi keperluan sekolahnya. Dia iri saat ia melihat anak seusianya berbondong-bondong dengan seragam putih merah dan sepatu hitam menuju sekolah mereka masing-masing dengan antusias demi meraup masa depannya esok. Duh ….!
“O..” ucap Gadis Ayu itu sembari mengangguk-angguk.
Akan tetapi memang keinginannya untuk melanjutkan sekolah di Yogya ini sungguh sangat menggebu. Dengan peristiwa yang menimpanya kini, akhirnya cita-citanya untuk sekolah di kota Gudeg ini jadi kesampaian juga. Peristiwa yang menyedihkan itu kini terasa menjadi segenggam berkah buat dirinya, karena dipertemukannya dengan gadis ayu bermata biru bak bidadari yang kini tengah sibuk mengisi blangko formulir di sampingnya. Nasib-nasib. Sempat juga ia tersenyum, hatinyapun menjadi semakin berbunga-bunga. Duh Ya Robby kulo!
Nyaris seperempat jam menulis sambil berbincang, gadis itu pun menyelesaikan isian formulirnya. Kemudian mengembalikan isian formulir sekaligus polpen yang dipinjamnya kepada Faiq El-Farisy. Setelah berterima kasih kepada Faiq El-Farisy, gadis itu pun berlalu meninggalkannya tanpa didahului dengan PI (Personal Introduction) . Cuek bebek, gitu loh!
Faiq El-Farisy pun baru saja tersadar dari lamunannya, sampai-sampai ia lupa berkenalan dengan gadis belia nan ayu itu. Ketika ia ingin memanggilnya kembali, gadis itu sudah menghilang, lenyap dari pandangannya. Bagai ditelan mimpi. Tapi sanggupkah ia berteriak dengan lantang dengan semangat empat lima untuk memanggil gadis itu, jika saja gadis itu masih berada di pelupuk matanya? ‘Aku ini arjunamu…! Aku ini belahan jiwamu…! Aku ini…?!’ Fuih! Gaya Eloe tuh, Iq…!
Sekali-kali ia usap matanya. Sedang mimpikah aku ini? Gumamnya. Ternyata bukan mimpi, ia ketemu dengan Gadis Ayu bermata biru bak bidadari dari surga itu baru saja. Ini nyata, sangat nyata. Tapi apakah bukan akan menjadi mimpikah dia akan kembali bertemu dengan Gadis Ayu itu? Akankah bertemu kembali kelak? Dan kini ia sangat berharap untuk bisa bersua kembali dengan gadis itu di sini, di MAN Yogyakarta I ini. Atau di mana saja kelak, yang terpenting bisa lebih dekat dan sampai melekat perkenalan itu, bagai lem besi. Tak terpisahkan.
Dengan sejuta rasa penyesalan dan berat hati berpisah dengan gadis ayu bermata biru bak bidadari itu, akhirnya iapun beranjak meninggalkan bangku di bawah pohon Akasia yang teduh itu. Akankah menjadi sejarah dan kenangan yang terindah kelak di kemudian hari atau di hari kemudian? Insya Allah!. ***
~oOo~
Setelah menyetor kembali isian formulir pendaftaran yang telah ia tandatangani plus pas foto hitam putih setengah badan, iapun menerima kartu tes dan meninggalkan loket dua itu. Ia tak langsung pulang ke rumah Bowo tempat menginapnya. Karena memang ia tak akan kembali ke rumah itu saat ini. Kosong ditinggal seluruh penghuninya. Bowo sempat meminta ma’af juga sebelum berangkat ke Ngawi tadi pagi.
Kini ia berjalan menuju Padmanaba di Kota Baru untuk mengadu nasib di sana. Sekali-kali ia berhenti, bertanya kepada para tukang becak. Kadang-kadang yang ditanya hanya kelihatan geleng-geleng kepala, tidak tahu. Bahkan ada juga yang langsung menyodorkan becaknya untuk naik, dikiranya mau menumpang.
Ia terus melanjutkan perjalanannya. Dan belum ada juga petunjuk di mana letak gedung Padmanaba. Sudah dua ratus meter dia berjalan, hampir tengah siang. Keringat membasahi bajunya yang sudah dua hari ini tidak dicucinya. Sesekali ia lap ke mukanya saputangan motif kotak-kotak berwarna coklat yang sedikit kumal itu. Perutnya juga mulai bernyanyi, nge-jazz, bahkan keroncongan sekaligus ndangdutan, minta diisi. Tadi pagi hanya makan dengan mie instant. Tidak ada yang masak di rumah Bowo. Semua ke Ngawi. Padahal di luar pekarangan MAN Yogyakarta I tadi dikelilingi oleh penjual Kentaki, maksudnya, kentara kakinya, kelihatan kakinya dari jalanan kalau orang lagi makan dibawah tenda kaki lima itu. Mau sayur bening dengan pegor (tempe goreng) atau rempeyek udang, atau sate usus dan sate telur puyuh, ikan goreng bumbu lombok juga ada. Bahkan sepotong goreng ayam kampung yang seratus persen halal. Bukan gelonggongan apalagi tiren. He..he…he. Kalau mau menu yang ringan sedikit berat juga boleh, yakni Borjo, bubur kacang hijau dicampur ketan hitam yang disiram santan kental lalu ditaruh es di atasnya ditambah susu kental manis. Enak sekali. Mantep gitu! Kata mbah Surip. Bahkan anak madrasah dan mahasiswa Gama sudah menjadi langganannya. ***
~oOo~
Langkahnya lurus kea rah selatan menyusuri trotoar jalan C. Simanjuntak itu. Udara semakin panas menyengat. Keringatpun makin mengucur deras meleleh ke seluruh tubuhnya. Membasahi bajunya yang sedikit lusuh itu. Ingatannya kepada gadis ayu bermata biru bak bidadari yang dijumpainya tadi pagi tidak bisa juga ia delet dari memorinya. Kapan dirinya bisa dipertemukan kembali. Kelak saat pelaksanaan tes tertulis di MAN Yogyakarta I, atau bahkan dalam pendaftaran di Padmanaba selekasnya. Itu harapan yang teramat dalam yang bercokol di lubuk hatinya. Sungguh pertemuan sekilas yang melambungkan seluruh angan-angannya. Senyum kecutnya tersungging tipis dibibirnya. Apalagi sebentar malam ia tidak tahu harus bermalam di mana?. Mungkin di Musholla atau di Masjid saja atau bahkan di trotoar depan ruko di Jalan Malioboro dekat angkringan atau lesehan yang buka sampai subuh. Entahlah.
Lelaki muda itu berhenti di trotoar, di bawah pohon Munggur yang tumbuh menjulang dan rimbun di halaman rumah keluarga dokter spesialis mata. Dahan dan rantingnya menjulur sampai ke atas jalan raya. Meneduhkan dari sengatan teriknya matahari siang bolong. Kendaraan masih lalu lalang sibuk memadati jalanan. Sekejap ia menghela napasnya dalam-dalam dan sesekali menelan ludahnya. Merenungi nasibnya yang sedikit tak bersahabat itu yang tak kunjung usai pula. Sudah dua puluh menit ia berteduh di trotoar bawah pohon Munggur itu. Semilir angin berhembus telah mengeringkan keringat di badan. Belum tahu kemana lagi arah langkah kakinya akan menuju. Tapi ia kini harus tetap melangkahkan kakinya untuk mencari lokasi gedung SMA Padmanaba berada. Tidak boleh kalah dengan terik dan panasnya siang bolong. Dia harus bisa menundukkan kerasnya hidup ini. Modal satu-satunya hanya menuntut ilmu secara formal untuk mendapatkan surat tanda tamat belajar. Paling tidak. Oleh karenanya tak boleh patah semangat. Bahkan semangat itu harus selalu dipompanya untuk meraih masa depannya kelak. Cita-cita yang setinggi-tingginya untuk meraih bakti cinta kedua orangtua yang telah tega mengusirnya. Ingin membuktikan bahwa dirinya tidak dendam, bahkan ia ingin membalasnya dengan sejuta kasih jika dirinya kelak telah berhasil merengkuh seluruh cita-citanya itu. Dia akan kembali ke Jakarta untuk membuktikan bahwa dirinya bisa. Kemudian juga, bukankah gadis manis nan ayu yang dijumpainya tadi pagi sempat juga mendorong semangatnya menjadi kembali fresh dan menggebu? Duh Gusti…!
Dia pun bangkit untuk melanjutkan perjalanannya setelah semangatnya kembali pulih karena terdorong oleh cita-citanya yang tiba-tiba saja muncul dari palung hatinya yang paling dalam. Bukankah kepergiannya ini untuk menunjukkan jika jati dirinya begitu tegar, begitu kuat, dirinya harus mampu menundukkan kerasnya kehidupan dunia ini. Justru tantangan-tantangan seperti inilah yang bisa menjadi pendorong atas keberhasilannya kelak. Insya Allah.
Senyumnya kembali mengembang dan tampak lebih bersemangat kembali. Namun bukan pernyataan-pernyataan itu saja yang memompanya kembali bersemangat. Lebih pada pertemuannya dengan gadis ayu bermata biru bak bidadari, di bangku bawah pohon Akasia yang teduh, di MAN Yogyakarta I yang kini membuat harapannya kembali menyeruak dahsyat mencongkel-congkel dinding batinnya.
Setelah meneguk air kemasan yang ia beli dari penjual gerobak dorong yang lewat baru saja, ia pun segera meninggalkan rindangnya pohon Munggur yang telah memulihkan kesegaran kembali perasaannya. Keringat yang mengucur membasahi bajunya, telah mengering. Kakinya pun kini telah terasa ringan untuk melangkah kembali menyusuri sepanjang trotoar jalanan kota. Sesekali langkahnya berhenti untuk menanyakan letak dan alamat SMA Padmanaba pada tukang becak yang sedang nongkrong di atas becaknya menunggu penumpang. Tapi tak seorang tukang becakpun yang tahu keberadaan sekolah yang tengah dicarinya itu. Akhirnya tak terasa perjalanannya sudah hampir sampai bangunan sebuah tugu yang berdiri tegak di tengah perempatan ujung jalan yang bergaris lurus dengan jalan Malioboro itu. Layaknya monumen yang berdiri tegar menunjukkan salah satu ragam spesifikasi bagi kota Yogya. Yah..salah satu icon kota Yogyakarta, meski bukan cuma itu saja spesifikasi kota Yogyakarta ini, tapi masih banyak keunikan lainnya yang menjadi cirikhas kota Yogya ini. Laiknya julukan bagi Daerah yang Istimewa.
Mobil, sepeda motor juga sepeda onthel atau sepeda pancal serta becak, tengah berlalu lalang di sana. Bahkan kereta yang ditarik kuda juga tengah mendominasi jalanan. Andong, atau dokar begitu orang biasa menyebutnya. Sangat sibuk, seperti kota lainnya. Di sana ia bertanya kepada mas-mas yang baru saja keluar dari sebuah toko buku, berpakaian sedikit rapih dengan baju lengan panjangnya yang dilipat hampir sampai siku. Mahasiswa barangkali, pikirnya.
“Oh. Ya! Adik jalan saja lurus ke arah timur melewati jembatan, dan setelah sampai perempatan jalan, adik belok ke arah kanan. Ndak nyampe seratus meter, di situ SMA Padmanaba. Mau lebih cepat, bisa naik becak saja !” Usul Mas itu dengan logat Ngayogjokarto Hadiningrat.
“Ya, Mas! Terima kasih.” Faiq membungkuk hormat pada mas-mas itu.
“Sama-sama, Dik.”
Ternyata dia salah arah jalan. Dari jalan C. Simanjuntak belok ke kanan. Padahal seharusnya belok ke kiri, kemudian belok ke kanan sedikit sudah sampai. Dia sempat tersenyum kecut. Terpaksa dia kembali menyusuri trotoar yang telah jauh dilewatinya tadi. Dia tak menggubris usulan Mas yang ia tanya tadi untuk menyewa becak. Ingat! Hemat pangkal pandai, eh, kaya!
Empat puluh lima menit iapun sampai di SMA 3 Padmanaba. Keringatnyapun kembali bercucuran membasahi bajunya yang mulai lusuh, akibat debu yang lengket. Diapun kembali tersenyum kecut. Pantas saja si abang becak tidak tahu. Kalau saja dia menyebut SMAN 3, dari tadi sudah sampai ke sana. Dikiranya sekolah swasta, tahunya negeri. Iq…..Faiq…., dasar otak Eloe memang belel…!
Lain dengan MAN Yogyakarta I, yang di halamannya hanya ditumbuhi oleh beberapa pohon Akasia saja. Di pekarangan SMAN 3 Padmanaba Yogya ini tumbuh beberapa pohon yang menjulang rimbun persis pohon tempat ia berteduh sejenak untuk istirahat di trotoar depan rumah seorang dokter spesial mata di jalan C. Simanjuntak tadi. Cuma bentuk daunnya ada perbedaan yang menyolok, pohonnya penuh akar yang menggantung, kayak pohon beringin. Tapi biarkan saja pohon-pohon itu tetap berdiri kokoh menaungi pekarangan Padmanaba. Tujuan terpentingnya hanya satu eh dua ding! Pertama mendaftar untuk menjadi almamater sekolah terfavorit ini. Yang kedua ingin bertemu kembali dengan Si Gadis Ayu bermata biru bak Bidadari itu. …Wakakakakakak.***
Yang antre sisa beberapa siswa saja. Dia pun langsung ikut berbaris di loket antrean. Ada beberapa calon siswa menyusul di belakangnya. Selama seperempat jam dia mengantre, akhirnya dapat juga formulir itu. Jam setengah satu loket itu di tutup. Besok hari terakhir pendaftaran dan lusa terakhir pengembalian formulir. Faiq El-Farisy duduk di teras sekolah itu sejenak melepas penatnya, sampai loket itu ditutup baru dia beranjak meninggalkan pekarangan Padmanaba mencari tempat beristirahat dan tempat menginap malam nanti. Musholla atau masjid, atau numpang di emperan pertokoan di Malioboro dekat lesehan.
Tiba-tiba terdengar sayup-sayup lantunan merdu suara adzan dari corong sebuah masjid. Ia melangkahkan kakinya menuju ke sana. Perlahan semakin jelas terdengar suara mengagungkan asma Allah itu, meski suara deru mesin kendaraan yang lalu lalang itu sempat mengganggunya. Akhirnya sampai juga di Masjid tepat selesai adzan berkumandang. Kira-kira perjalanan dua ratus meter jarak dari SMA 3 ke arah timur.
Kini Faiq El-Farisy sementara mengambil air wudhu’ dan segera berserah diri keharibaan Ilahi Robbi bersama jama’ah dzuhur lainnya, dilanjutkan tafakur, wirid, istighfar…. Asytaghfirullohal’adziim…, Laailaaha illallohu wahdahulaasyarikalah lahululmulku walahulhamdu yuhyii wayumiitu wahuwa ‘alaa kullisyaiin Qodiir. Subhanalloh Walhamdulillah Walailaha-illallohu wallohu Akbar. ***
~oOo~
Malam ini dia masih berada di masjid. Dia sudah minta izin pada ta’mir masjid untuk menginap semalam saja di masjid ini. Tetapi justru Pak Sholichin, ta’mir masjid itu, mengizinkan untuk menginap beberapa malam di gudang yang kosong, setelah dia terpaksa mengutarakan cerita tentang sebab dirinya sampai berada di kota Yogya ini. Gudang itu bersebelahan dengan tempat tinggal keluarga Pak Sholichin. Tak luas, ukuran dua kali tiga. Pak Sholichin, yang usianya limapuluhan itu, sudah hampir sepuluh tahun tinggal di rumah petak inventaris milik masjid ini bersama istrinya yang lebih muda delapan tahunan itu. Di sana pula mereka memperoleh momongan setelah lebih lima tahun mereka menikah. Fuadiyono, nama anak mereka. Usianya menginjak delapan tahun. Baru saja naik ke kelas dua SD. Ingatan Faiq El-Farisy kembali kepada Naura. Naura yang satu-satunya menangisi saat kepergiannya itu juga baru naik ke kelas dua SD. Naura………! Hasrat untuk meneriakkan nama adik tercintanya itu seakan menghilangkan akal sehatnya. Seandainya saja memungkinkan, dirinya sangat ingin membawa Naura ikut bersamanya kemana saja ia pergi saat ini. Dan dirinya ingin tidak kesepian seperti sekarang ini. Matanya mulai berkaca-kaca kembali.
Pak Sholichin yang asli Gunungkidul itu tak sengaja merantau ke ibukota Yogya ini. Pak Haji Sahroni yang menawarkan pekerjaan di masjid itu. Sambil buka warung kaki lima di halaman masjid, kata beliau. Kebetulan Haji Sahroni adalah Ketua Pengurus masjid itu sampai sekarang. Sudah empat periode beliau terpilih menjabat sebagai ketua masjid ini. Beliau terpilih secara aklamasi dalam pemilihan berkala lima tahunan. Kenal sama Haji Sahroni, ketika Haji Sahroni mengadakan study penelitian sosiologi untuk melengkapi desertasi S3-nya di kampungnya di Gunung Kidul, sepuluh tahun silam. Haji Sahroni yang sekarang guru besar di Gajah Mada itu telah bergelar Prof. Dr. H. Sahroni Adam, M.Si. dan mengajar di beberapa universitas di kota ini. Bahkan biasa presentasi ke luar pulau Jawa sebagi nara sumber dan sebagai dosen terbang. Sibuk. Rumahnya yang besar di ujung jalan gang itu, sekitar lima puluh meter jaraknya dari masjid, hanya seperti tempat peristirahatan saja. Seluruh keluarga di rumah itu sibuk. Istrinya seorang dokter spesialis yang bertugas di RS Sardjito merangkap di RS PKU. Dan tiga anaknya masing-masing sibuk dengan kuliahnya. Yang tua alumni MUHI, yang satu alumni MAN Yogya I, dan yang bungsu alumni SMAN I Teladan Tahun lalu. Mereka di Gajah Mada semua. Yang dari MAN Yogya I sekarang sudah smester empat teknik nuklir di UGM. Prasojo namanya.
Suara desahan kereta itu membangunkan Faiq El-Farisy dari mimpinya tepat jam tiga dini hari lewat tiga puluh menit. Belum terbiasa. Mimpi itu sedikit membawa hatinya gelisah. Syetan! Hampir saja ia berteriak, mengumpat! Tapi ia tahan setelah sadar bahwa dirinya berada di kampung orang. Tidak boleh terjadi, hanya karena mimpi, hatinya menjadi gulana seperti ini. Ini perbuatan Syetan untuk mematahkan semangatnya dan putus asa. Kemudian seluruh impiannya yang telah terkemas rapi kini akan menjadi bias akhirnya musnah tersaput kegamangan.
Faiq El-Farisy terdiam sejenak, baru kemudian ia pun bergegas bersuci diri dan bermunajat cinta kepada Al-Malikul Quddusus Salam. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Seperti biasanya. Minimal tiga roka’at dia kerjakan dan dini hari ini lengkap sebelas roka’at dia selesaikan tahajudnya bersama witir dalam dua puluh lima menit, dia tambah lima belas menit untuk berdzikir dalam munajat cintanya. Ada beberapa do’a yang ia munajatkan dini hari ini. Termasuk permohonan untuk dipertemukannya kembali dengan gadis ayu bermata biru itu. Hatinyapun mereda dan menjadi tenteram dan istiqomah .

~oooOhdrOooo~

Minggu, 31 Januari 2010

Merintihlah dalam Tahajjudmu "Bagian 8"

8. Jamuan Istimewa Sang Kiyai

Faiq tidak tahu peristiwa heboh di perumahan elit itu sepeninggalnya tadi siang. Yang ia pikir kini, bagaimana bisa menemukan kediaman Mbokde Sur, teman sebangku selama perjalanan di kereta. Mudah-mudahan sambutan keluarga Mbokde Sur akan lebih baik. Dia tak ingin dirinya terlunta-lunta seperti sekarang ini. Apalagi terjaring operasi yustisi karena dicap sebagai pendatang haram di kota ini, jika ia menggelandang seperti ini. Dia tak ingin.
Jarum pendek telah menunjuk ke angka sembilan malam. Dia masih tercenung di salah satu pojok perempatan jalan sebelah barat daya kota ini. Hiruk pikuk kendaraan sudah mulai menyepi. Tinggal satu dua kendaraan yang melintas di sana. Di sebelah sudut perempatan yang lain anak-anak muda sebayanya sementara bermain musik melepas segala kegundahaan. Tiga orang memainkan gitar. Satu main di Bass, satu main di ritem, dan satu lagi main di melodi. Ada yang menabuh ember sebagai pengganti gendang. Kemudian yang tidak bisa bermain musik maupun bernyanyi, merekapun tak mau kalah memberikan andil dengan memukul-mukul bambu atau hanya sekedar menepuk-nepuk telapak tangan. Sekedar memberi arti sebuah pertemanan. Bermacam lagu mereka nyanyikan. Dari lagu nostalgia sampai volume terbaru. Dari pop sampai dangdut, bahkan keroncong atau langgam jawa, campur sari. Dari lagu ciptaan Jakco sampai ciptaan Mbah Surip Almarhum.
Di pojok yang lain juga lagi disibukkan oleh transaksi pedagang gorengan yang tengah melayani para pembelinya. Ada beberapa pedagang gorengan mangkal di sana. Dan semuanya laris. Namun gerimis terus mengalir membasahi seluruh permukaan bumi. Perut pun mulai bernyanyi seirama alunan lagu-lagu yang didendangkan anak-anak muda sebaya di seberang sana. Seakan tak hendak usai. Gerimis terus merintik. Dinginpun mulai menggigit. Faiq pun perlahan melepaskan tas ransel sekolahnya yang masih tersandang di punggungnya, menyiapkan sebuah jaket kumal untuk sekedar menutupi tubuhnya yang dingin oleh terpaan angin malam bercampur basah rintik gerimis.
Lambung itu berkeruyuk sekali lagi minta di isi. Sebab dari pagi memang belum terisi nasi. Meskipun tadi siang sempat dia isi dengan beberapa potong singkong goreng di penjual pinggir jalan, namun itu hanya menambah rasa mulas di lambungnya.
Persediaan bekal sangu tinggal beberapa rupiah saja. Dia takut, jika dia pergunakan untuk membeli nasi, takut habis sebelum menemukan alamat Mbokde Sur. Tapi kebutuhan pokokpun juga tidak boleh diabaikan begitu saja. Bisa-bisa penyakit yang datang menderanya. Kemudiaan ia pun segera bangkit dari lamunnanya. Matanya menyorot ke arah penjual gorengan sekedar mencari pengganjal perutnya agar cacing sang penghuni tidak meronta-ronta minta jatah. Namun secara kebetulan saja di antara beberapa pedagang gorengan itu ada seorang ibu tengah menggelar dagangan lesehannya dengan diterangi beberapa lampu teplok. Dua keranjang tenggok berukuran sedang menyangga dua tampah, alat penapis beras, terpajang di depan tempat ibu penjual itu duduk bersimpuh. Kedua tampah berdiameter enampuluh centimeter itu berisi segala macam lauk pauk dan sayuran. Ada sayur lodeh, pecal, lele goreng, tempe dan tahu bacam, mendoan, rempeyek udang dan sambal goreng ampela-ati ayam.
Langkahnya terhenti ketika sampai ke tempat ibu penjual nasi dan lauk pauk itu. Wajah ibu itu selintas mirip Mbokde Sur. Dia cermati secara seksama wajah yang samar di balik temaram lampu teplok itu juga gadis yang duduk disampingnya menemani ibu itu berjualan. Ternyata memang bukan. Untuk menghilangkan rasa kecewa di hatinya sekaligus menghilangkan rasa laparnya yang sudah melilit semenjak sore tadi, ia pun segera memesan nasi, sayur lodeh, mendoan berikut rempeyek udang. Dan segelas teh hangat. Lalu, segera bergabung dengan beberapa pelanggan yang sudah duduk lesehan di bibir trotoar yang dialasi tikar pandan sambil menikmati hidangan sederhana itu dengan lahapnya. Suapan demi suapan terasa nikmatnya lebih. Sambil mendengarkan musik anak muda di pojok seberang jalan yang menemani sampai pagi.
Usai menerima pengembalian uang sisa pembayaran, ia pun berlalu meneruskan perjalanan mencari tempat menginap. Di mana saja, yang penting bisa mengistirahatkan tubuhnya yang letih malam ini, setelah seharian penuh menempuh perjalanan yang cukup jauh. Hampir enam belas kilometer jarak perjalanan yang dia tempuh hari ini, dengan berjalan kaki.
Beberapa langgar dan masjid telah dia lewati. Tampak kosong dan gelap. Tidak seorangpun terlihat. Dan beberapa pos ronda pun tampak lengang di sana, meski lampu terlihat meneranginya. Namun akhirnya dia berniat istirahat di salah satu pos ronda itu malam ini. Dia sudah sangat letih berjalan kaki beratus-ratus meter, meninggalkan tempat ia makan, meninggalkan alunan musik jalanan kelompok pemuda di perempatan jalan tadi. Dan kini kantukpun telah menyerang matanya secara seporadis dan bertubi-tubi. Sesekali dia menekap mulutnya ketika menguap. Dan benar saja tubuhnya yang sedikit kering kini telah membujur di lantai pos ronda yang terbuat dari suunan kayu Albasiah itu. Angannya telah terbawa arus mimpi yang indah bersama gadis ayu yang tengah digandrunginya kini.***
~oOo~
Malam semakin larut. Gerimis tak kunjung usai. Suasana dingin yang menyengat itu telah membangunkannya dari segala mimpi indahnya. Jaket kumal yang membalut tubuh kurusnya tak mempan melindungi rasa dingin yang menyengat sampai ke pori-pori. Gerimis masih merintik tepat jam tiga dini hari ini. Di pos ronda itu tak lagi lengang. Ada beberapa orang petugas ronda lagi asyik bermain kartu. Sengaja tak membangunkannya. Mereka tahu jika dirinya bukan orang jahat atau gelandanagan, meskipun benar menggelandang saat ini. Itu terlihat dari pakaiannya, meski sedikit kumal tapi tak menyebabkan interpretasi para peronda itu miring terhadap dirinya. Mungkin orang jauh yang sedang cari alamat tapi kemalaman dan kelelahan. Padahal seandainya tadi mau kembali ke tempat Pak Sholichin, pasti beliau mau menerimanya dengan senang hati dan ia bisa bermalam di sana. Dan tidak terlunta-lunta menggelandang tidur di pos ronda kayak gini. Tapi itu tak mungkin dia lakukan, karena baru beberapa hari saja dia tinggalkan tempat menginapnya itu. Dan peristiwa itu belum tersingkirkan dari benaknya. Dia takut membuat masalah di sana. Dia tak ingin membuat susah lelaki tua yang telah menolongnya itu.
Setelah ia melekkan sedikit matanya dan ia usap-usap kelopaknya hanya sekedar untuk melihat siapa petugas ronda itu. Dan ….ternyata ada enam orang. Yang empat orang anak muda tengah asyik bermain kartu domino seakan tidak mau terusik. Dan yang dua orang sedang asyik mengobrol. Entah apa yang tengah mereka perbincangkan. Dari mulut mereka sesekali mengepulkan asap rokok yang melambung ke udara bebas nan dingin. Entah apa topik yang mereka bahas dini hari ini.
Faiq El-Farisy bangkit dari pembaringan. Penat di sekujur tubuhnya terasa telah terobati. Sambil mengulurkan tangan, dia menyapa kedua orang yang lagi mengobrol dan tidak ikut main kartu itu dengan meminta ma’af tidak izin menggunakan pos ronda itu. Mereka pun menyambut baik setelah ia ceritakan maksud dan tujuannya sehingga nyasar sampai kampung ini.
“O… jadi Nak Faiq ini sedang mencari alamat tho…?!” Tanya bapak yang berkalung sarung warna kotak-kotak coklat biru tua memakai peci di kepalanya. Pak Kerto. Usianya hampir enampuluh tahun. Rambutnya mulai memutih. Tampak lebih tua dari usia sebenarnya.
“Iya pak, tapi catatan alamat itu kecuci. Lagian…., saya juga tidak ingat nama kampung itu!” Jelasnya pda bapak-bapak petugas pos ronda.
“Iya…ya? sulit mencarinya kalo gitu!” sambung Pak Tugiman, orang yang satunya lagi, usianya lebih muda lima tahunan.
“Coba diingat-ingat kembali, Dik. Siapa tahu ada yang bisa mengantar adik ke sana.” Salah satu dari orang yang main kartu nimbrung sambil asyik menimbang-nimbang kartu mana yang harus ia turunkan dan kartu mana yang tetap ia simpan untuk mengunci mati permainan itu. Tanpa menoleh sedikitpun ke arah yang dia ajak bicara. Konsentrasi penuh pada kartunya.
Sudah dicoba memutar balik otaknya tapi sulit mengingatnya. Kampung apa namanya. Yang jelas terletak di sebelah selatan kota Yogya, itu saja yang diingatnya. Tapi sudah cukup memberi gambaran bahwa suatu saat kampung itu pasti segera akan diketemukan.
“Bukan Bantul, dik?!” tanya yang lain.
“Ya…ya… betul, pak…!” tiba-tiba dia mengingatnya. Semangatnya kembali menyeruak.
“Kalau Bantul masih jauh dari sini,….” Gumam pak Kerto sambil melepas asap nikotinnya membumbung bebas ke udara. “Yo, pironan yo, To…?!” sambungnya. Pertanyaan itu ditujukan kepada pemain kartu yang namanya mas Darto, usianya nyaris tiga puluhan tahun.
“Sekitar limabelasan kilo dari sini, De!” jawab Darto tanpa menoleh sedikitpun. (De: berasal dari kata Pak Gede atau Pakde atau Om) masih serius menekuni kartunya.
Faiq tidak tahu kalau Bantul itu adalah Kabupaten yang sangat luas. Dan ironisnya lagi nama ibukotanya juga Bantul, jadi semakin membuatnya bertambah bingung. Mata pelajaran IPS tidak pernah membahas Kabupaten Bantul sewaktu di Jakarta dulu. Palingan Kabupaten seputar Jakarta saja.
“Makanya…lu apalin dulu di otak lu itu alamat, baru…dicuci. Atau otak lu saja yang dicuci?! Ha…ha…ha!” Dia teringat kalimat bernada canda sahabatnya si Anton. Memang benar sih, seandainya saja dia langsung taruh di dompetnya pasti tidak akan sesusah ini jadinya. Barangkali sudah ketemu ketika ia cari bersama Anton kemarin. Hingga kejadian di rumah elit itu bisa terhindarkan, dan tak menambah ruwet hubungan dia dengan mama Anton, Bu Ratna. Dan juga, hanya untuk cari alamat saja sudah bikin makin tambah panjang episodenya.
“Katanya ndak nyampek lima kilometer dari kota Yogya…..” jelas Faiq kemudian sambil menekap mulutnya dengan tangan kanannya. Menguap.
“O…. bukan kota Bantul, to…?!” kalimat itu keluar dari mulut Pak Kerto, masih dipenuhi asap rokok. “Kalo daerah Kabupaten Bantul…., di sini sudah perbatasan antara kota Yogya dan Kabupten Bantul.” Sambungnya menjelaskan.
“Selatan kota Yogya, begitu!” jelas Faiq
“Wah…., selatan Yogya kan panjang juga…..!” gumam Pak Tugiman, lalu… “Lha daerah timur atau sebelah barat ?!” sambungnya bertanya.
“Saya juga kurang tahu, Pakde.” Faiq berusaha akrab.
“Wealah…..kalo gitu ya susah betul mencarinya!” lanjut Pak Tugiman sembari mengepulkan asap rokoknya.“Seandainya besok ndak ada urusan penting, saya bisa antar pake motor.” Sambungnya lagi rada menyesal, lalu kepada anak-anak muda yang lagi main kartu, “Lha kamu, To?” Ditujukan kepada Darto.
“Besok ada urusan di Wates, je!” Jawab Darto sambil konsentrasinya masih di kartunya.
“Lha….kamu, Tin?” ditujukan pada anak muda yang satunya. Mas Sangatin.
“Kebetulan ada hajatan keluarga di Pakem, De!” Balas Sangatin sambil memberi kode pada dua temannya yang tidak disebut, “Kamu!?”
“Aku ndak bisa,…De! mau ke Magelang…., dua hari!” jawab yang ditunjuk.
“Aku juga mau ke Sragen…., tiga hari!” jawab anak muda yang satunya lagi.
Pak Tugiman akhirnya menarik nafas panjang yang kemudian ia hembuskan kembali, lalu menyedot batang rokoknya, baru kemudian, “Wah…kalo gitu, kami minta ma’af,…. Ndak bisa ngantar…!” kalimat itu keluar dari mulut Pak Tugiman bersama kepulan asap rokoknya dengan nada rada menyesal.
“Ya ndak apa-apa, Pakde…! Saya sudah sangat berterima kasih atas kerelaan Pakde dan Mas-Mas bisa menerima saya bermalam di sini.”
Gerimis masih mengucur perlahan dari langit. Bintang gemintang tak menampakkan jati dirinya. Hanya laron-laron kecil berterbangan mengitari lampu-lampu neon yang gemilang bercahaya. Mereka keluar dari sarangnya karena terusik oleh hawa dingin, berhasrat menghangatkan diri pada lampu-lampu itu. Laron-laron itu semakin asyik bercengkerama dibawah cahaya panas lampu-lampu neon…satu-satu berjatuhan.
Faiqpun seketika berpamitan hendak buang hajat kecilnya yang sudah ia tahan sejak tadi. Sebenarnya ada kamar kecil di sebuah masjid yang berjarak lima puluh meter di sebelah barat pos ronda, tapi jam begini pintu pagar masjid masih terkunci. Lalu, Pakde Kerto menunjukkan sebuah surau kecil berdinding gedek terbuat dari bambu yang dianyam, berdiri kokoh di pinggiran sawah, dua ratus meter ke selatan dari pos ronda. Jauh dari pemukiman penduduk.***
Sesampai di surau.
Semuanya tampak sederhana, rapi dan bersih. Gelap menyelimuti suasana surau, namun secercah cahaya menerangi samar-samar, yakni, pantulan sinar dari beberapa lampu yang bergelantungan di pinggir jalan di kejauhan. Nampak dari surau itu empat buah bangunan yang terpisah. Bangunan yang satu memanjang ukuran duapulah meter, mirip bangunan madrasah. Dua bangunan yang agak berjauhan letaknya, satu di sebelah madrasah dan yang satu lagi dekat rumah yang memanjang ke belakang. Ada sekat. Mirip asrama putra dan putri. Bertingkat dua. Ada cahaya dari bangunan itu tapi tak begitu terang. Mungkin sudah berpenghuni. Tapi masih tampak senyap. Dan sebuah bangunan yang lain adalah rumah biasa, seperti dua bangunan rumah yang bersusun memanjang kebelakang. Sudah berpenghuni juga. Semua bangunan itu terbuat dari papan. Mirip pesantren kampung yang baru di bangun. Semua serba baru.
Sepeninggal Faiq menuju surau, pos ronda pun kembali lengang. Mereka melaksanakan tugas berkeliling mengitari rumah warga yang tengah dibuai mimpi. Terbagi tiga kelompok. Masing-masing kelompok dua orang. Dan selanjutnya pulang ke rumah masing-masing untuk istirahat.
Setelah buang hajat kecilnya di salah satu kamar kecil yang dibangun berderet memanjang itu, ia pun bergegas mengambil air wudlu untuk menyenandungkan tahajud cinta di surau itu, dini hari ini. Dalam surau itu sebenarnya ada lampu penerang. Tapi tak menyala. Sudah beberapa kali saklar itu dipencetnya, tapi arus listrik tak nampak mengalir. Nol amper. Sedikit gelap. Hanya pantulan sinar lampu yang bergelantungan di pinggir jalanan di kejauhan sana sedikit memberikan cahanya samar-samar. Temaram.
Ada sisa waktu sedikit, karena waktu subuh hampir menyambut.
Benar saja, ketika dalam suasana berdzikir setelah bertahajud, ada seseorang dengan pakaian jubah warna putih lengkap dengan surban di kepala, memasuki surau dengan membawa lampu teplok ditangan kirinya, sementara di tangan kanannya menggegam gagang payung untuk melindungi diri dari terpaan taburan gerimis dini hari. Suasana dalam surau ukuran enam kali delapan itu nampak bertambah terang akibat terpaan sinar lampu teplok yang dibawa bapak berjubah itu, meski tidak benderang sama sekali.
Setelah meletakkan payungnya kemudian mencenthelkan lampu teploknya ke tiang surau, sambil sesekali berdehem, mengenyahkan lendir bakal ingus yang menempel di dinding tenggorokannya, kemudian menuju ruang imam untuk melaksanakan sholat sunat dua roka’at. Entah sholat apa. Yang jelas tak terlalu lama beberapa remaja pun nampak menyusul hadir di surau itu. Kira-kira duapuluh tujuh orang, semua berbaju koko, memakai sarung dan peci hitam atau kopyah putih. Separuh dari mereka juga membawa lampu teplok. Lalu mereka letakkan di lantai bagian pinggir ruangan surau berderet melingkar. Suasana ruangan surau makin nampak lebih terang dan ramai.
Setelah melaksanakan sholat sunat dua roka’at, salah satu dari mereka mengambil posisi berdiri, dengan tangan kirinya bersedekap, dan jari telunjuk tangan kanannya menyumpal di telinga. Kesunyian dini hari yang dingin itu pecah terbelah oleh kumandang adzan Subuh yang sangat merdu dan menggema ke seluruh ruangan surau. Subuh sudah tiba, kokok ayam pun bersahutan turut bertasbih menyambut pagi.
Ba’da sholat, wirid dan berdo’a, bapak yang berjubah dan bertindak sebagai imam itu bersila membelakangi qiblat. Sementara para makmum mengikuti dengan duduk bersila berhadapan dengan bapak yang berjubah. Di depan tempat duduk bersila sudah mereka siapkan bangku penyangga mushab Al-Qur’an. Berbentuk silang. Bisa dibuka dan dilipat, terbuat dari papan kayu. Namun pagi ini yang ada di atas bangku penyangga itu bukan Al-Qur’an, melainkan buku tipis selebar map folio berwarna kekuning-kuningan. Kemudian bapak yang berjubah mulai membuka majelis dengan mengucap………
“Bismillahirrohmanirrohim. Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh” ucap beliau mengawali.
Dan disambut majelis secara serentak, “wa’alaikum salam……!”
“Pagi ini adalah pertemuan yang kedua.” Begitu bapak yang berjubah memulai kalimatnya, “tapi sebelum simak-an kita ini di mulai, mari berdiskusi sejenak untuk evaluasi, demi kemajuan pesantren kita ini,” sambung beliau sembari menarik nafasnya, lalu…“Coba kowe, Rus! Opo usulanmu?” Dengan logat pribumi.
“Injih, Yai…” Yang di tunjuk menyahut sangat hormat, “kalo boleh… masalah penerangan, Pak Kiyai…!” sambungnya mengusulkan.
“Injih, Kiyai…..masalah penerangan…., Kiyai…!” Serentak yang lain menyahut.
“Maksud kalian opo, to….?!” Tanya bapak yang berjubah, yang disebut Kiyai itu belum tahu maksudnya.
“Maksud Machrus itu,….masalah Listrik, Pak Kiyai..” Jelas yang lain.
“O…..ya…ya…ya.” Pak Kiyai sudah mafhum, lalu :”ya, kebetulan biaya untuk itu sudah disiapkan. Lha, kalo gitu siapa yang bisa ngurus?!” sambung beliau minta pendapat.
“Machrus, Kiyai…..Machrus saja…..!” jawab mereka lagi, bersahutan.
“Ya…., kalo gitu yang ngurus listrik saudara Machrus…karo kowe, le… si….si….si,… sopo to iki? Aku lali jenengmu, je!” Kiyai Marzuki mengusap-usap kepalanya yang terbalut oleh surban tebalnya sambil mengingat-ingat…
“Fachri…, Pak Kiyai…?!” serentak yang lain menyebut nama yang dilupa pak kiyainya itu.
“Ya…sampeyan…, Fachri, kamu nanti bersama Machrus mengurus listrik di PLN ranting. Supaya kabel yang tertimpa pohon itu segera diperbaiki, dan tanya berapa biayanya.” Begitu kata Pak Kiyai, sembari telunjuknya mengarah pada santrinya yang bernama Fachri itu. Santri itu pun mengangguk mengiyakan. Pak Kiyai berdehem lagi, mengusir lendir yang melengket di tenggorokannya. Maklum, lagi musim gerimis. Flu mulai menyerbu.
Kemudian sambung Pak Kiyai lagi, “lha, selanjutnya yang jadi prioritas adalah tempat simak-an kita ini…” beliau berhenti sejenak, “kita ndak bisa pakai surau ini selamanya. Sebab, surau ini untuk umum….lha letaknya juga ndak strategis, je. Di pinggir jalan gitu. Terganggu. Dan sempit lagi….Nanti kita bisa bikin di sebelah timur di tanah yang masih kosong itu. Kita bikin yang lebih luas, permanen, dan lebih bagus, gitu. Supaya, mengajinya bisa sumringah, ndak sumpek seperti sekarang ini. Sudah gelap, pengap, empet-empetan…, sumpek lagi. He….he…he…” Keluh Kiyai Marzuki sembari tergelak khas, dibarengi dengan santri-santrinya. Akrab.
Diawali dengan diskusi, simak-an itu tetap berjalan dengan hikmat. Kitab yang di kaji pagi itu tidak begitu tebal. Bahkan sangat tipis. Hanya beberapa halaman saja. Namun untuk mengkajinya dengan metode simak-an itu bisa memerlukan waktu berhari hari. Bahkan berbulan-bulan. Atau bahkan sampai bertahun-tahun bagi Santri yang ngendon. Karena tidak begitu mudah untuk memahami maksud dan makna yang terkandung dalam kitab gundul itu, kalau hanya sekedar mengartikan saja. Apatah lagi memaknai? Untuk membacanya saja sudah terasa begitu sulit, karena tanpa harokat tanpa baris. Orang biasa menyebutnya kitab gundul atau kitab kuning. Kitab gundul, karena tulisan arabnya tidak berharokat alias gundul. Sedangkan disebut kitab kuning, karena warna kitabnya yang kekuning-kuningan akibat usianya yang sudah sangat tua. Meskipun kitab itu sudah banyak cetakan terbarunya tetapi warna kertasnya juga disesuaikan. Meski kertas baru warna tetap kekuning-kuningan.
Kemudian Pak Kiyai Marzuki, orang yang berjubah dan bersorban itu, mulai membacanya, mengulangi pelajaran minggu lalu dari awal dengan bahasa ibu, alias bahasa jawa. Setiap kata dibaca, berikut terjemahnya, kemudian ditirukan oleh para santri. Entahlah, siapa yang mengawali dengan cara metode ini. Tapi metode seperti ini konon sudah digunakan di pesantren-pesantren di Jawa sejak belanda masih menguasai bumi pertiwi dulu. Tetapi masih relevankah jika metode ini tetap dipertahankan sampai saat ini. Tetapi juga, bahwa kenyataannya dengan metode ini, telah menelorkan sekaligus mencetak para kiyai-kiyai serta ulama yang tidak sedikit jumlahnya di belahan tanah Jawa.
“Alkalamu,… utawi, huwa kalam,…….” Pak kiyai menuntun. Kemudian diikuti para sntri.
“Alkalamu,… utawi, huwa kalam,…….” Para santri menirukan secara serentak dan bersemangat.
“iku, allafzhu, lafal…” Pak Kiyai lagi menuntun.
“iku, allafzhu, lafal…” Para santri menirukan lagi, secara serentak dan bersemangat lagi.
“sifate lafal,… almurokabu,… kang den susun-susun opo lafal,……” Pak Kiyai terus menuntun.
“sifate lafal,… almurokabu,… kang den susun-susun opo lafal,……” Para santri tetap menirukan secara serentak dan bersemangat.
“sifate lafal,… almufidu, kang maedahi opo lafal……” Pak Kiyai Marzuki terus menuntun, kemudian diikuti oleh para santrinya. Begitu seterusnya.
Biasanya kalau sudah lancar, mereka belajar membaca sendiri dan disimak oleh pengasuhnya. Pak Kiyai sendiri atau ustadz lain yang dipercayakan. Setelah mahir betul baru diteruskan dengan pendalaman yang lebih tinggi, yakni meng-I’rob. Dan seterusnya….dan seterusnya…..
Sepertinya, Faiq pernah mengkaji kitab itu, waktu kelas dua SMP, pada ustadz Fiqry Al-Jauzy, tapi metodenya sangat lain dan memakai bahasa Indonesia daripada yang baik dari pada yang benar. He….he….he. Namun tidak sampai tuntas. Baru beberapa halaman saja dan belum paham sama sekali. Karena ustadz Fiqri yang wetonan pesantren itu mendapat bea siswa untuk melanjutkan kuliahnya di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir untuk mendapatkan ilmu yang lebih luas dan mendapatkan pula gelar Lc, di belakang namanya.
Memang kitab ini seharusnya dikaji lebih awal oleh para santri. Karena kitab ini mengkaji tentang tata cara untuk membuat sebuah kalimat dengan bahasa arab secara benar. Bagaimana cara membacanya jika kata kerja di dahului dengan huruf-huruf qosam. Atau huruf untuk bersumpah. Bagaimana huruf yang menasabkan, men-jarkan, men-jazmkan........…..dan seterusnya……….dan seterusnya. Pokoknya rumit deh. Penulis juga ndak paham. Kalau tidak salah, nama kitab gundul itu namanya “Matan Jurumiyah”. Atau apa?!.....aku ndak tahu!
Yang kami tahu, bahwa santri-santri yang mengaji pagi ini adalah santri lepas campuran atau santri kalongan. Periode ini baru dibuka, dengan maksud untuk kemajuan pesantren sendiri. Karena disamping mengaji, santri-santri lepas campuran ini akan dilibatkan juga dalam pengelolaan pesantren. Bahkan sampai menejemennya pun mereka dilibatkan. Mereka ada yang mahasiswa, ada yang masih SMA atau di madrasah atau yang tidak sekolah tapi umurnya sudah dewasa juga boleh masuk program santri lepas ini. Usianya minimal lima belas tahun. Dan di angkatan pertama ini mereka di samping mengkaji kitab Jurumiyah seminggu dua kali. Juga mereka diberi kebebasan memilih untuk mengkaji kitab yang lain. Mereka juga diberi kebebasan dalam hal tempat tinggal atau menginap. Boleh menginap di pesantren atau di luar pesantren. Terserah mereka. Namun meski begitu mereka tetap punya kewajiban seperti mereka yang mondok menetap di dalam pesantren. Hak dan kewajiban mereka tetap sama dengan santri murni. Cuma mereka ini diberi hak tambahan yakni dalam pengelolaan demi kemajuan pesantren.
Pondok pesantren “Ulumul Kutub” ini baru didirikan tiga tahun yang lalu oleh Drs. KH. Marzuki Machfud yang alumni IAIN Suka sekaligus Pondok Pesantren Krapyak asuhan Prof. KH. Ali Ma’sum. Namun santrinya sudah mencapai ratusan. Hampir dua ratus santri.
Meskipun suasananya sangat sederhana namun pengelolaannya sedikit modern. Meskipun modelnya sama saja dengan pesantren Salafiah yang lain, namun para santri juga diajari cara berkebun yang baik dan mengelola peternakan. Persis Pesantren Agrobisnis. Namun untuk peternakan baru dalam taraf perencanaan.***
~oOo~
Gerimis masih enggan berhenti turun dari langit pagi itu. Gelap perlahan berganti dengan terang di pagi hari. Meski mendung sedikit melindungi dari terpaan sinar pagi. Kokok ayam jago makin terdengar jelas bersahutan. Di jalanan sudah mulai disibukkan oleh lalu-lalang kendaraan dan para pejalan kaki yang segera mengawali rutinitasnya masing-masing. Suara tapak kaki kuda yang berladam keprak-keprok menambah spesifikasi suasana pagi di desa pinggiran kota. Sang kusir yang bersahaja mengendalikan dengan sabar demi sekedar mengejar sesuap nasi.
Kajian kitab gundul pagi itu, sementara dipending untuk dilanjutkan tiga hari berikutnya. Para santri pun bubar meninggalkan surau setelah mematikan lampu teploknya dengan cara meniup pada lobang semprongnya disertai perasaan bahagia, karena bertambahnya ilmu pagi ini. Ilmu yang telah ditransfer oleh Kiyai Marzuki dengan perasaan ikhlas dan legowo kepada mereka. Suasana pagi di pesantren itu memang tidak begitu ramai. Asrama itu hanya beberapa saja yang berpenghuni. Karena santri murni sudah seminggu ini melaksanakan liburan selama sebulan. Oleh karena untuk mengisi kevakuman di hari libur, maka ide menerima santri lepas atau santri kalongan itu terpikirkan dan termotivasi. Dan kini sekitar tigapuluhan santri lepas, dan nanti selanjutnya mungkin akan bertambah, karena kesadaran mereka untuk menuntut ilmu-ilmu agama adalah sama pentingnya dengan ilmu-ilmu yang lain. Aduh…. dikotomi lagi.
Sementara santri sudah bubar. Kiyai Marzuki masih tetap di tempatnya. Lalu memanggil seorang anak muda yang masih setia duduk bersila di sudut ruangan surau itu.
“Le…. Cah anyar, po yo?!” tanya Kiyai Marzuki pada pemuda itu.
Yang ditanya tidak tahu apa maksud Kiyai Marzuki. Lalu……
“Anak santri baru, ya..?!” Tanya Kiyai lagi dengan mengubah bahasanya.
“Bukan, Pak Kiyai…”
“Lalu…, apa tujuan Anak ini ….?!”
“Saya sedang cari alamat, Pak Kiyai.”
“O…Anak ini bukan asli sini ya?!”
“Benar, Pak Kiyai….saya dari Jakarta…..”
“O…” Kiyai mafhum namun terheran.
Kiyai Marzuki beranjak dari tempatnya. Lalu menuju pintu surau, mengambil payung dan sandal selanjutnya berlalu dari surau itu tanpa sepatah kata lagi. Sedangkan lampu teplok yang beliau bawa tadi sudah dibawakan pulang oleh salah satu santrinya.
Sementara posisi yang ditinggalkan sudah tidak duduk bersila lagi. Namun ia kini tengah baerbaring-baring melemaskan seluruh persendiannya yang sedikit tegang. Kalau bisa ia pejamkan matanya untuk membalas dendam terhadap begadangnya semalaman bersama peronda. Mulutnya pun mulai mengeluarkan angin yang terpaksa dihembuskan. Berkali-kali ia menguap. Berkali-kali ia menekap mulutnya sambil berucap :”Allah….. Ya Rabby.” Matanyapun tak terasa merem-melek dan….akhirnya… mak-ler….pulas. Hampir tiga jam ia terlelap di surau itu. Tiba-tiba seseorang menggoyang-goyangkan tubuh kurusnya bermaksud menggugahnya. Ia pun terbangun, lalu mengucek-ucek matanya supaya lebih terang penglihatannya. Ternyata salah seorang santri lepasnya Kiyai Marzuki yang turut mengaji kitab kuning di surau ini pagi tadi yang baru saja membangunkannya.
“Dipanggil Pak Kiyai, Mas!” Sapa orang itu. Kebiasaan masyarakat di Yogya untuk menghargai seseorang, tetap menggunakan panggilan dengan sebutan ‘Mas’ meski kepada yang lebih muda. Bahasa lain mengatakan: kakak, abang, daeng, akang, kang, uda, brother dan sebagainya.
“Ada apa, ya..?” Jawab Faiq El-Farisy dengan kalimat tanda tanya.
“Saya juga kurang tahu, je.” Jawab orang itu.
“Oh…..ya, kenalkan, saya Faiq…...Faiq El-Farisy………dari Jakarta.” Faiq memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.
“Saya Wardiman, asli Desa Gedangan……” menyambut uluran tangan Faiq. Dan Nah….itu dia….Desa Gedangan. Mbokde Sur tinggal di sana jangan-jangan…tapi anaknya Mbokde Sur tidak ada yang segede gini. Anak Mbokde Sur kan cuma dua, perempuan semua lagi! Yang tua di IKIP dan yang bungsu baru naik kelas enam SD.
“Jadi…Mas Wardiman ini tinggal di Desa Gedangan, to?!”
“Betul, Mas. Tapi….….kenapa……?!” Setengah bingung, tidak mengerti arah pertanyaanya.
“Saya sedang mencari alamat. Dan nama alamat itu ya…Desa Gedangan itu!” Suasana loyo itu kini berubah menjadi sumringah. Wajah belum mandi itu seperti sudah berbilas dengan beberapa galon air.
“Siapa yang dicari Mas Faiq ini…?!” Tanya Wardiman kemudian. Muncul keakraban.
“Rumahnya Mbokde Sur…”
“Oh, ya…. Isterinya pakde Amat yang kusir andong itu, ya?!”
“Persis…”
“Itu tetangga jauh saya…”
“Dari sini berapa kilo lagi.. ..?”
“Cuman tiga kiloan, kok Mas…. … ayo Mas kita ke pak Kiyai dulu. Ntar ba’da Isya’ tak antar pakai sepeda …!”
“Kalo gitu silahkan duluan! Saya dhuha dulu. Nanti saya menyusul!” Pintanya riang sambil menebak-nebak, “Ada masalah apa kok dipanggil Kiyai? Atau mau dikasih kawin sama anak gadisnya, ya? He…he…he.” Begitu yang ada dalam angan-angan ngelanturnya. Selengek-an. Tetapi tak terbendung juga, akhirnya cekikak-cekikik sendiri kayak orang gila….! Edan tenan!
Menurut buku panduan ‘Mencari Berkah Lewat Sholat Dhuha’, sholat bisa dilaksanakan dua roka’at sampai dua belas roka’at. Setelah sholat dhuha enam roka’at, ia pun memenuhi panggilan Kiyai Marzuki.
Dan Kiyai Marzuki menyambutnya dengan sangat familiar. Bincang-bincang pagi pun nampak hangat, sehangat teh berikut onde-onde isi enten-enten kacang hijau yang dihidangkan dan baru setengah jam turun dari penggorengan.
“Nak Faiq ini pernah di pesantren juga, to…?!” Tanya Kiyai Marzuki kemudian dan tiba-tiba.
“Tidak ….tidak pernah Pak Kiyai…., cuma ngaji ala kampung saja. Dan belum juga paham sampai sekarang...” Ungkapnya gelagepan, ngawur, sekenanya dan sekedar basa-basi. Tidak mau terus dikejar tentang ngaji. Apalagi tentang kitab gundul atau kitab kuning itu, wah…, takut tidak bisa menjawab.
Padahal kitab gundul yang dikaji tadi pagi, pernah juga ia pelajari pada ustadz Fiqri A-Jauzy yang sekarang tengah menyelesaikan studinya di Al-Azhar, Kairo. Tapi hal itu tak perlu diungkapkannya pada topik perbincangan pagi ini, Persoalannya nanti tambah melebar dan bisa bikin malu dirinya. Nanti dibilang sok tahu, akhirnya runyam tak karuan. Kaco deh!
“O….” Bibir Kiyai marzuki membuat bundaran, kemudain mengangguk-angguk sambil memainkan jemari kaki sebelah kanan yang tertumpu pada lututnya yang sebelah kiri. Kebiasaan duduk para kiyai. Sembari mengepulkan asap rokok kretek merahnya ke udara. Wow …nikmat. Belum ada fatwa haram. Haramnya rokok kan situasional dan kondisional-kah?
Sejenak dalam keheningan, muncul seorang gadis ayu berjilbab panjang, bibir mungil, hidung macung, bulu mata yang lentik, menyambangi mereka yang tengah berbincang. Kemudian…..
“Nak Faiq, kenalkan… ini putri pertama saya….” Pinta Kiyai Marzuki.
‘Terlambat kawin ini pak Kiyai, masak umur segini, anaknya baru segede gini’ Pikiran ngelanturnya kembali muncul.
Kemudian gadis berjilbab itu menangkupkan kedua telapak tangannya di dadanya sambil sedikit membungkuk kepada Faiq.
“Ninik….Maftuhatunni’mah.” Suara itu sangat lembut. Selembut wajahnya yang anggun. Sedikit malu.
“Faiq….Faiq El-Farisy,” Sedikit dag-dig-dug-der-dor. Faiqpun berdiri dan berbuat persis seperi gadis itu. Membalas. Kemudian duduk kembali.
“Sudah semester tiga di Pertanian Gajah Mada….” Terang pak Kiyai, “hafal qur’an lagi.” Lanjut Pak Kiyai, dengan perasaan bangga. Ninik tamat dari MAN Yogya Satu tahun lalu. Nyambi mengaji di Pesantren Putri Ngrukem. Kini dia sudah menjadi Hafizhoh atau penghafal Alqur’an wanita.
Faiq El-Farisy pun sontak kaget. Karena umur masih SMA-an begini, tidak ditahunya sudah mahasiswi. Kontan dia dibuat menjadi jengah sendiri. Ternyata dirinya tidak ada apa-apanya. Dirinya yang hanya seorang gelandangan yang SMA pun belun tamat pula. Mengaji saja ndak beres-beres…, apalagi menghafal Al-Qur’an…, duh …..sangat jauh! Seperti langit dan bumi. Seperi monyet merindukan sang bintang. Pikirannya sempat ngelantur kemana-mana. Gadis ayu bak bidadari bermata biru, yang selalu hadir dalam mimpinya, yang selalu ia rindukan setiap saat itu pun belum digapainya, oikirannya sudah ngelantur ke anak Pak Kiyai Marzuki. Belum apa-apa sudah berselingkuh. Huh! Dasar iblis…! Akhirnya ditepisnya perasan-perasaan itu.
Kemudian ucap Ninik, gadis berjilbab panjang kepada ayahnya, “Abi…, sudah siap…” Gadis itu mengkode ayahnya dengan kerdipan bola matanya yang lentik. Duh…….malu aku…..!
“Ayo…., Nak Faiq, kita ke dalam dulu,….sarapan pagi sudah siap…!” ajak Kiyai Marzuki sambil bangkit dari tempat duduknya.
Mendengar ajakan sang Kiyai, buyarlah lamunannya. Sedikit terperangah. Hampir saja dibuatnya malu. Untung saja Kiyai Marzuki dan Ninik tidak melihat tingkahnya yang gelagepan kayak orang lagi klelep di kali Bogowonto itu. Lalu, untuk menghilangkan rasa salah tingkahnya, ia pun mengikut saja di belakang Kiyai Marzuki yang tengah melangkahkan kakinya menuju ke ruang tengah untuk sarapan pagi. Dia tak pernah mengira jika akan ada perjamuan istimewa seperti ini. Dua hari yang lalu diusir, sekarang mendapatkan perlakuan yang istimewa dari Pak Kiyai yang baru dikenalnya tadi pagi, apalagi anak gadisnya. Wah…wah…! Hus..! Ngelantur saja tuh pikiran kotor! Dan alamatpun sudah diketemukan. Sungguh rizki yang tak disangka-sangka. Alhamdulillahi robil’alamiin.
Di ruang makan, mereka berdua duduk mengambil posisi berhadapan. Ummi, isteri Kiyai Marzuki muncul dari dapur, sambil membawa semangkok sup panas. Kemudian…
“Silahkan… Nak, jangan sungkan-sungkan, lho….” Begitu sapa Ummi, isteri Kiyai Marzuki, ibu Ninik. (Ummi= Ibu)
Dan tanpa basa-basi lagi, dan tanpa sungkan atau rasa segan, hidangan sarapan pagi itu pun segera lumer masuk kedalam kerongkongan dan sari patinya langsung terdistribusi ke seluruh ruang sel di dalam sekujur raga sesuai yang dibutuhkan masing-masing.
Seusai sarapan pagi dengan menu ayam kampung yang diolah menjadi berbagai masakan, mereka pun kembali ke ruang tamu. Tak lama Wardiman muncul di pintu ruang tamu rumah panjang itu, mengendap-endap sambil membungkuk penuh hormat pada Kiyai Marzuki, sang guru terhormat.
“Ada apa, War..?!” Tanya Kiyai Marzuki.
“Anu…Pak Kiyai…, e…sebentar, ba’da Isya saya minta pamit pada Pak Kiyai untuk mengantar Mas Faiq ke kampung saya.”
“Jadi …., Nak Faiq!”
“Ya… Pak Kiyai…..! Saya mohon ma’af, saya harus meneruskan perjalanan saya. Insya Alloh….. nanti saya akan menimba ilmu di sini.” Jelas Faiq memotong, dengan perasaan sungkan. Sementara, Ninik yang nguping sejak tadi dari ruang dalam, menyambut gembira karena Mas Faiq akan nyantri di sini. ‘Mas atau Dik?’ wong lebih muda tiga tahun kok. Usia memang tak bisa menjadi ukuran orang untuk jatuh cinta.
“Ya…ya...ya…, boleh…boleh…boleh….” Sambut Kiyai mengijinkan, sembari membuang abu rokoknya ke dalam asbak.
“Mas Faiq, silahkan mandi dulu. Kebetulan air ledeng sudah jalan….!” Begitu pinta Wardiman memberi tahu. Faiq jadi malu sendiri; sudah sarapan kok belum mandi.
Memang air ledeng sering ngadat. Kadang ngucur, kadang mampet. Ya..itu sudah menjadi hal kebiasaan yang salah kaprah di mana-mana, di seluruh pelosok negeri tercinta ini. Akhirnya mereka minta undur diri pada Pak Kiyai***
Badan terasa bugar kembali. Perasaanpun terasa bahagia. Apalagi setelah berkeliling kampus Pesantren ‘Ulumul Kutub’ bersama Mbak Ninik. Melihat-lihat suasana pesantren sekaligus pemandangan yang asri. Kemudian berkeliling ke bakal lahan kebun agrobisnis yang luasnya kurang lebih dua hektoare itu ditemani oleh Wardiman dan Dzofir. Mereka berempat berbincang nampak seru sekali.

~oooOhdrOooo~

Sejuta

ok